KOMPROMIS MEDIS-CASE REPORT (FKG USU)

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. A.    LATAR BELAKANG

 

            Kompromis medis adalah suatu bahasan yang mencakup hubungan timbal balik antara penyakit sistemik yang diderita oleh seorang pasien dengan keadaan ronggga mulut, yang mana penyakit sistemik dapat memberikan dampak atau manifestasi di dalam rongga mulut dan penyakit di rongga mulut dapat memberikan dampak pada keadaan sistemik tubuh. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama antara dokter ahli penyakit dalam dengan dokter gigi untuk memberikan pelayanan yang terbaik dalam meningkatkan kualitas hidup pasien.

            Bagian anggota tubuh memiliki kaitan erat antara satu dengan yang lain. Dalam hal ini rongga mulut, gigi serta jaringan lunak jika tidak diperhatikan perawatannya akan menjadi salah satu faktor atau predisposisi timbulnya penyakit-penyakit pada organ lain yang jauh dari mulut. Dewasa ini masyarakat sering mengeluhkan adanya gejala-gejala di rongga mulut yang kurang diketahui oleh mereka bahwa hal tersebut merupakan dampak atau manifestasi dari penyakit sistemik yang mereka derita, bahkan banyak penyakit bagian tubuh lain yang mempunyai gejala-gejala pertama kali di rongga mulut dan sering dokter gigi lah yang menemukan penyakit sistemik yang diderita oleh pasien. Sehingga ini merupakan tantangan bagi bidang kedokteran gigi untuk lebih memberikan penyuluhan serta pengetahuan kepada masyarakat bahwa rongga mulut merupakan salah satu bagian dari tubuh yang penting untuk di jaga kesehatannya serta memberikan pemahaman bahwa rongga mulut adalah salah satu pintu masuknya sumber penyakit.

            Dalam makalah ini akan dibahas tentang penyakit sistemik baik etiologi, patogenesis, dan penatalaksanaan serta hubungan penyakit sistemik dengan rongga mulut dan implikasinya di kedokteran gigi, sehingga di harapkan menambah pengetahuan serta pemahaman lebih luas terutama kepada dokter gigi untuk mempertimbangkan prosedur dental yang akan dilakukan agar memberikan tingkat keberhasilan perawatan dental yang tinggi dan meminimalisasikan risiko atau memperparah penyakit yang telah diderita oleh pasien.

 

 

  1. B.     DESKRIPSI TOPIK

 

            Seorang pasien wanita berusia 55 tahun datang kepraktek dokter gigi dengan beberapa keluhan di rongga mulutnya yaitu pembengkakan pada gusi di rahang atas dan rahang bawah, lubang besar pada gigi geraham kanan bawah dan goyang pada gigi depan bawah. Dari anamnesis diketahui bahwa pembengkakan pada gusi terjadi sejak 6 bulan lalu dan pada saat menyikat gigi sering terjadi pendarahan spontan. Lubang pada gigi geraham kanan bawah terjadi 1 bulan yang lalu, awalnya berukuran kecil dan lama kelamaan menjadi semakin besar, namun tidak sakit. Pasien hanya merasakan ada bau mulut dari gigi tersebut. Pasien juga ingin mencabut gigi depan bawahnya karena goyang.

            Dari anamnesis juga diketahui bahwa pasien pernah dirawat di rumah sakit sekitar 3 bulan lalu dengan keluhan lemah lengan dan tungkai kiri yang dialami secra tiba-tiba saat pasien baru bangun dari tidur. Keluhan tersebut juga disertai dengan cara bicara pelo (celat) dan sudut mulut sebelah kiri jatuh. Pasien juga mengatakan bahwa tekanan darahnya sekitar 1 minggu yang lalu adalah 130/80 mmHg. Sampai saat ini, pasien masih mengkonsumsi obat aspirin, captropil, dan diuretik lasix untuk mengobati penyakit tersebut.

            Pemeriksaan ekstra oral menunjukkan suduk mulut kiri dan kanan tidak simestris. Pemeriksaan intra oral menunjukkan gigi 46 karies profunda dn tidak sakit, gigi 34 mobiliti 3, serta gingiva rahang atas dan bawah banya terdapat plak dan kalkulus, gingiva anterior rahang bawah terdapat periodontal poket disetai kehilangan perlekatan dan OHIS buruk.

 

DOWNLOAD DISINI

 

sumber: perwakilan komisi A psmkgi (2012-2014) FKG USU

daftar pustaka: silahkan hubungi Admin

Advertisements

“Mr. Bambang’s tooth is painful for biting” (Sumber : Duta UI)

Scenario name                       : “Mr. Bambang’s tooth is painful for biting”

Scenario                                 :

Mr. Bambang, 40 years old, comes to integration clinic with complain that his upper left tooth is painful for biting. Intra oral examination shows PBI 1,5; PI 1,8; CI 1,4; on 23 there is 2o mobility and blocking with 33 on lateral movement, percussion +, pocket dept is 6 mm. there is 2o mobility, percussion +, and 5 mm pocket depth.

Problems

  1. What is the diagnosis for Mr. Bambang?
  2. What is the treatment for Mr. Bambang?

 

Hypothesis

  1. Mr. Bambang suffers from localized periodontitis caused by trauma from occlusion.

1.3  : loss of bone (vertical), blocking with 3.3

2.5 : 26 is missing, thickening of lamina dura, widening of ODL

  1. The treatment is initial treatment and then surgical.

Learning Objective

  1. Occlusion
    1. Normal occlusion
    2. Trauma from occlusion : – mechanism/pathogenesis

–    Factor affecting

  1. Radiographic feature of TFO
  2. Treatment : – Occlusal adjustment

–    Healing process

  1. Missing teeth : – physiologic effect

–    radiology

 

Mr. Bambang suffers from trauma from occlusion. The first phase of treatment is Dental Health Education, scaling and root planning, splinting and occlusal adjustment. The phase IV is maintenance. We do evaluation of oral hygiene, pocket depth and sign of inflammation, and should consider the indication of surgical therapy, if necessary. Then, evaluation should be done.

 

Therapeutic goals and treatment considerations

A goal of periodontal therapy in the treatment of occlusal traumatism should be to maintain the periodontium in comfort and function. Treatment considerations must be considered including one or more of the following :

1)      Occlusal adjustment

2)      Management of parafunctional habits

3)      Temporary, provisional or long-term stabilization of mobile teeth with removable or fixed appliances

4)      Orthodontic tooth movement

5)      Occlusal reconstruction

6)      Extraction of selected teeth

Occlusal adjustment or selective grinding is defined as reshaping the occluding surfaces of teeth by grinding to create harmonious contact relationships between the upper and lower teeth.

DOWNLOAD DISINI

sumber: perwakilan komisi A psmkgi (2012-2014) FKG UI
daftar pustaka: silahkan hubungi Admin

RASA TAKUT (sumber: Duta UNMAS)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu hal yang menyulitkan dalam melakukan perawatan gigi pada anak adalah timbulnya ketidaknyamanan, kecemasan, ketakutan, bahkan trauma akibat rasa sakit yang dialami selama perawatan gigi dilakukan. Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai unit pelayanan kesehatan gigi misalnya di praktek dokter gigi, di rumah sakit ataupun di puskesmas. Rasa takut merupakan salah satu dari sekian banyak emosi yang biasa diperlihatkan anak pada perawatan gigi. Kebanyakan diperoleh pada masa anak dan remaja. Rasa takut menghantarkan anak-anak pada prosedur yang mungkin tidak menyenangkan dan selanjutnya memperbesar rasa takut terhadap prosedur perawatan gigi.

Menurut Behrman dan Vaughan, anak usia sekolah umumnya mempunyai rasa takut terhadap orang yang masih asing seperti dokter, ataupun dokter gigi, rumah sakit, dan rasa takut ini merupakan suatu hal yang normal. Sebagaimana diketahui bahwa peralatan yang digunakan ataupun tindakan yang dilakukan tenaga kesehatan gigi terlihat di depan mata, di samping bunyi bur yang mengilukan merupakan faktor penyebab timbulnya rasa takut. Orang tua tidak boleh menggunakan perawatan gigi sebagai ancaman dan membawa anak ke dokter gigi sebagai hukuman. Anak harus diajarkan bahwa praktek dokter gigi bukan merupakan tempat untuk ditakuti

Jadi pada makalah ini kami akan menyajikan tipe-tipe rasa takut, penyebabnya, cara mengamati, menanggulangi, dan peran orang tua itu sendiri. Karena keberhasilan mengatasi rasa takut pada anak berdampak positif dalam melakukan perawatan gigi pasien anak.

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1                  Apa definisi dari rasa takut terhadap perawatan gigi dan tipe-tipe rasa takut?

1.2.2                  Apa saja penyebab rasa takut terhadap perawatan gigi anak?

1.2.3                  Bagaimana cara mengamati rasa takut dalam praktek kedokteran gigi anak?

1.2.4                  Bagaimana cara dokter menanggulangi  rasa takut pasien anak?

1.2.5                  Bagaimana sikap dan peran orang tua dalam menanggulangi rasa takut anak?

1.3  Tujuan

1.3.1                  Untuk mengetahui definisi dan tipe-tipe rasa takut anak terhadap perawatan gigi

1.3.2                  Untuk mengetahui penyebab rasa takut terhadap perawatan gigi anak

1.3.3                  Untuk mengetahui ciri-ciri pasien anak yang merasa ketakutan saat mendapatkan perawatan gigi

1.3.4                  Untuk mengetahui cara dokter menanggulangi rasa takut pasien anak

1.3.5                  Untuk mengetahui sikap yang seharusnya dilakukan orang tua serta peranannya dalam menanggulangi rasa takut anak

1.4  Manfaat

1.4.1                  Dapat memberikan pengetahuan tentang rasa takut anak terhadap perawatan gigi dan cara menanganinya

1.4.2                  Sebagai bahan pelajaran bagi para mahasiswa perawat gigi dalam menangani anak yang memiliki perasaan takut terhadap perawatan gigi.

1.4.3                  Dapat menambah ilmu pengetahuan dan dapat menjadi acuan, masukan atau referensi bagi peneliti berikutnya

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Tipe-tipe Rasa Takut Pasien Anak dalam Perawatan Gigi

Rasa takut adalah respons emosional dan merupakan suatu mekanisme protektif untuk melindungi seseorang dari ancaman atau bahaya dari luar. Rasa takut tidak diwariskan tetapi diperoleh setelah lahir. Rasa takut anak diperoleh secara objektif atau subjektif.

2.1.1 Rasa takut objektif

Merupakan respons dari stimulus yang dirasakan, dilihat, didengar, dicium dan merupakan hal atau keadaan yang tidak enak atau tidak menyenangkan. Rasa takut objektif ditimbulkan oleh rangsangan langsung yang diterima organ perasa dan secara umum bukan bersumber dari orang lain. Rasa takut objektif dapat disebabkan karena perasaan yang tidak menyenangkan terhadap perawatan gigi. Seorang anak yang pernah dirawat dan mengalami rasa sakit yang hebat di rumah sakit oleh dokter yang berseragam putih akan menimbulkan rasa takut yang hebat pada dokter gigi atau perawat gigi yang berseragam sama. Bahkan karakteristik bau dari obat-obatan atau bahan kimia tertentu dapat dihubungkan dengan keadaan yang tidak menyenangkan dapat menimbulkan rasa takut yang tidak beralasan.

Rasa takut objektif juga dapat bersifat asosiatif seperti seperti pengalaman yang dialami seorang anak yang tidak adanya hubungannya dengan sakit gigi, misalnya anak pernah dirawat dirumah sakit dan mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, pengalaman ini membuat anak merasa takut apabila melihat orang yang berbaju putih. Adanya rasa takut  dapat merendahkan ambang rasa sakit, sehingga rasa sakit yang ringan saja dapat membuat ketakutan yang meningkat

2.1.2 Rasa takut subjektif

Merupakan rasa takut yang didapat dari orang lain dan anak tersebut tidak mengalaminya sendiri. Anak kecil sangat mudah dipengaruhi, sehingga anak kecil yang tidak berpengalaman ketika mendengar pengalaman yang tidak menyenangkan atau situasi yang menimbulkan rasa sakit yang dialami oleh orang tua mereka, dengan segera akan menimbulkan rasa takut pada dirinya. Hal-hal yang dapat menimbulkan rasa takut akan disimpan dalam ingatannya, dengan segala imajinasi yang dimilikinya, dan rasa takut menjadi bertambah hebat.

Anak memiliki rasa takut yang hebat terhadap suatu hal yang asing. Hal ini akan menghasilkan rasa takut yang terus menerus sampai anak tersebut dapat membuktikan bahwa tidak ada ancaman yang dapat mengganggunya. Rasa takutnya merupakan usaha untuk mengatur situasi yang dia rasa mungkin menyakitkan baginya. Sampai dia dapat meyakinkan dirinya, rasa takut akan tetap berlangsung lama.

Rasa takut ini didapatkan terutama oleh orangtua dan lingkungan sekitarnya, dapat pula timbul karena pengaruh menonton televisi, karikatur, radio dan buku yang biasanya tersimpan dalam pikiran seorang anak yang dapat menimbulkan rasa takut akibat image yang salah. Seorang anak belum mempunyai banyak pengalaman sehingga jika ada orang yang bercerita atau melihat sesuatu yang menyakitkan, dalam diri seorang anak akan berkembang rasa takut yang berkesan dalam pikiran dan imajinasinya yang hidup sehingga sesuatu dapat menjadi hebat dan besar, karena seorang anak sangat peka terhadap sugesti. Rasa takut seorang anak biasanya akan hilang apabila dapat dibuktikan atau diyakinkan bahwa suatu obyek atau hal itu tidak sesuai dengan yang dipikirkannya.

2.2 Penyebab Rasa Takut

Rasa takut terhadap perawatan gigi hingga saat ini masih merupakan masalah yang penting dan merupakan hambatan bagi dokter gigi dalam usaha peningkatan kesehatan gigi masyarakat dan hal tersebut dapat memberi pengaruh buruk terhadap pelaksanaan prosedur pengobatannya. Rasa takut akan mempengaruhi tingkah laku anak dan menentukan keberhasilan kunjungan ke dokter gigi. Faktor-faktor yang menyebabkan rasa takut terhadap perawatan gigi dan mulut yaitu rasa takut dari diri sendiri, rasa takut dari orang tua atau keluarga, dan dokter gigi.

  1. Rasa Takut dari Diri Sendiri

Rasa takut pada anak terhadap perawatan gigi salah satunya timbul dari dalam diri anak itu sendiri. Beberapa hal yang dapat menyebabkan timbulnya rasa takut dalam diri anak adalah usia, pengalaman buruk, mempunyai masalah kesehatan, dan rasa sakit

  1. Rasa Takut dari Orangtua atau Keluarga

Peranan orang tua terhadap keberhasilan perawatan gigi anaknya, sangat besar. Sikap orang tua akan berpengaruh terhadap perilaku anak selama menjalani perawatan. Pada umumnya seorang ibu dengan tingkat kecemasan yang tinggi, ketika anaknya dirawat akan menunjukkan sikap yang tidak menguntungkan yang dapat mempengaruhi keberhasilan perawatan. Orang tua yang takut terhadap perawatan gigi akan mempengaruhi anaknya ketika dilakukan perawatan gigi.

Terlepas dari rasa takut yang dimiliki oleh anaknya, orang tua yang terlalu merasa takut, sering sekali bertanya tentang perawatan yang akan dilakukan terhadap anaknya. Hal tersebut menjadikan orang tua sebagai model yang takut terhadap perawatan gigi bagi anaknya. Rasa takut yang berasal dari orang tua atau keluarga dapat ditularkan kepada anak dengan cara mengancam anak dengan menggunakan perawatan gigi untuk menakut-nakuti dan membicarakan perawatan gigi yang tidak menyenangkan di depan anak.

Beberapa sikap atau perilaku orang tua seperti memanjakan anak (over affection), melindungi anak secara berlebihan (over protection), memenuhi keinginan anak tanpa batas (over indulgence), kekhawatiran yang berlebihan (over anxiety), sikap yang terlalu keras dan sikap menolak (rejection), dapat mempengaruhi perilaku anak. Akibatnya anak menjadi penakut, kurang percaya diri, pemalu, nakal, pembangkang, dan semuanya dapat menimbulkan perilaku negatif anak pada perawatan gigi.

  1. Dokter Gigi

Rasa takut pada anak dapat disebabkan oleh pengelolaan yang kurang tepat oleh dokter gigi. Sikap dokter gigi yang kaku atau keras, kurang sabar, kurang menunjukkan kehangatan dan perhatian dapat menyebabkan anak bersikap negatif. Dokter gigi harus bersikap lembut ketika merawat pasien anak, mempunyai wibawa serta dapat menjelaskan perawatan yang akan dilakukan dengan cara yang tidak membuat anak merasa takut. Selain itu, ruangan praktek yang dianggap asing oleh anak dapat dibuat menjadi lebih aman. Misalnya ruang tunggu yang dilengkapi beberapa mainan, gambar maupun buku yang berhubungan dengan anak.

Dokter gigi yang baik benar-benar peduli, mereka menjelaskan prosedur dan mencoba untuk membantu merasa rileks. Dokter gigi harus menunjukkan cara untuk berkomunikasi, bersabar, dapat dipercaya, dan memiliki kompetensi. Jika diperlukan perawatan gigi, dokter gigi mulai dengan prosedur yang paling mudah. Hal ini memungkinkan anak untuk membangun kepercayaan untuk kunjungan berikutnya

2.3    Cara Mengamati Rasa Takut Anak  dalam Praktek Kedokteran Gigi Anak

  1. penampilan fisik :
  • raut wajah yang pucat pasi
  • dahi mengkerut
  1. perubahan tingkah laku seperti :
  • bicaranya yang terbata-bata bahkan  terkadang tidak  berani berbicara,
  • gelisah,
  • tangan yang gemetar,
  • keringat dingin
  • menangis
  • memberontak
  • berusaha menghindar diri dari pihak lain yang menyerangnya

4 kategori tingkah laku anak yang di kenal oleh Frankl dkk adalah:  (G.G.Kent, A.S. Blinkhorn, 2005)

  1. Sangat negatif : menolak perawatan, meronta-ronta dan membantah, amat takut, menangis kuat-kuat, menarik atau mengisolasi diri, atau keduanya.
  2. Sedikit negatif : mencoba bertahan, menyimpan rasa takut dari minimal sampai sedang , nervus atau menangis.
  3. Sedikit positif : berhati-hati menerima perawatan dengan agak segan, dengan taktik bertanya atau menolak,cukup bersedia bekerja sama dengan dokter/perawat gigi.
  4. Sangat positif : bersikap baik dengan operator, tidak ada tanda-tanda takut, tertarik pada prosedur, dan membuat kontak verbal yang baik.

2.4   Cara Dokter Menanggulangi  Rasa  Takut terhadap Pasien

  • Upaya yang dilakukan oleh dokter gigi menggadapi rasa takut anak adalah menempatkan anak senyaman mungkin dan mengarahkannya bahwa pengalamannya ini bukanlah hal yang tidak biasa. Jika tempat praktik tidak terbatas hanya untuk pasien anak-anak, salah satu metode yang efektif di antaranya adalah dengan pembuatan ruang tunggu yang dibuat sedemikian rupa sehingga anak merasa berada di lingkungan rumahnya sendiri. Membuat ruang penerimaan yang nyaman dan hangat sehingga anak merasa tidak asing ketika memasukinya. (Arlette Suzy Puspa Pertiwi, Yetty Herdiyati Nonong, Inne Suherna Sasmita 2010)
  • Untuk menghindari ketakutan anak, perkenalkan anak dengan dokter gigi sedini mungkin.mulailah pada usia 6 bulan sampai 1 tahun dimana giginya sudah mulai tumbuh, ajak anak untuk menemani orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter gigi. Anak akan merasa senang dan tidak takut jika dokter yang menanganinya menyenangkan hati anak tersebut, terlihat ramah, murah senyum, sabar dan amu menyapa anak dengan lembut. Jangan memaksa anak untuk pergi kedokter gigi ketika suasana hatinya sedang tidak baik,pilih waktu yang tepat agar anak merasa nyaman, tampak ceria, dan mau berbagi cerita.(Gracianti Afrilina, Juliska Gracinia, 2006)
  • Belikan mainan yang berhubungan dengan peran dokter. Seperti stetoskop, baju dokter, dan lain- lain. Dengan menggabungkan langkah no 1, tentunya si buah hati akan  lebih ‘familiar’ dengan dunia kesehatan. Pada akhirnya si buah hati menjadi tidak takut pada dokter.
  • Belikan buku seri anak  bercerita / mendongeng yang di dalamnya ada cerita tentang tokoh yang berani berobat ke dokter atau diperiksa oleh dokter.
  • Buat si buah hati merasa aman dan nyaman saat berkunjung ke dokter. Misalnya ia diperkenankan membawa mainan kesukannya, memakai baju kesukaannya, atau sehabis berobat diajak ke tempat bermain/ makan  kesukaannya.
  • Tidak salah juga apabila si buah hati diajak menemani kakak/ saudara lainnya berobat sehingga ia biasa melihat dan mendapatkan informsi  bagaimana menjaga kesehatan. Misalnya saat pergi ke dokter gigi, maka si buah hati mendapat pelajaran bagaimana cara menjaga giginya  dan menjauhi permen

2.5  Peranan Orang Tua Terhadap Perawatan Gigi Anak

Pengaruh orang tua sangat penting terhadap pembentukan perilaku anak dalam menjalani perawatan gigi. Orang tua harus menginformasikan kepada anak mereka tentang apa yang sebaiknya dia lakukan selama berada di praktek dokter gigi. Anak harus terlebih dahulu diberi gambaran tentang dokter yang akan merawatnya serta situasi yang dapat timbulnya nanti sebelum membuat janji bertemu dengan dokter gigi, tidak perlu menceritakan rasa sakit yang begitu hebat kepada anak, tetapi diperlukan pernyataan yang jujur tanpa emosi yang dilebih-lebihkan. Walaupun orang tua mempunyai pengaruh terhadap pembentukan perilaku anak mereka, tetapi rasa takut juga dapat diperoleh dari teman bermainnya atau dari buku yang sering dia baca, film kartun, radio, televisi dan lain-lain. Rasa takut tergantung pada intensitas stimulus takut yang sering diterima anak tersebut.

Orang tua sangat berperan pada perawatan gigi anak, sikap yang masih sering dijumpai adalah orang tua jarang sekali mengantar anaknya kedokter gigi untuk pemeriksaan rutin atau sekedar untuk konsultasi, biasanya orang tua baru mengantarkan anaknya kedokter gigi apabila ada keluhan atau anak sakit gigi. Sikap yang demikian tentunya kurang menguntungkan sebab selain perwatannya lebih sulit bagaimanapun juga menjegah lebih baik daripada mengobati.   (Fajriani Hendrastuti, 2003).

Dokter gigi perlu mengetahui beberapa informasi mengenai kondisi anak kepada orang tuanya,serta mengamati bagaimana hubungan anak itu kepada orang tuanya. Didikan orang tua merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku anak menerima perawatan gigi. Sikap orang tua yang berpengaruh pada anak terhadap perawatan gigi.

Keberhasilan perawatan gigi anak tidak lepas dari kerja sama antara beberapa pihak, dalam hal ini diperlukan peran serta orang tua. Adapun peranan orang tua terhadap keberhasilan perawatan gigi anak yaitu :

1. Orang tua sebagai teladan yang akan dijadikan oleh seorang anak sebagai panutan yang akan memberikan contoh yang baik terhadap perawatan gigi anak.

2. Orang tua berperan sebagai kontroler untuk tetap mengawasi anaknya untuk tetap memperhatikan kebersihan giginya.

3. Orang tua sebagai figur yang dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada anak tentang apa yang baik untuk perawatan gigi anak.

4. Orang tua sebagai motivator yang akan selalu memberikan bimbingan kepada seorang anak untuk tetap memperhatikan kebersihan giginya.

Hal ini dapat terlihat pada anak yang takut dan tidak mau dicabut giginya, dimana orang tua dituntut untuk tetap memberikan motivasi dan arahan yang baik perihal tentang giginya, sehingga anak akan terpacu dan tidak menghawatirkan atau takut jika akan memeriksakan giginya.

BAB III

SIMPULAN

2.5    Cara Mengamati Rasa Takut Anak  dalam Praktek Kedokteran Gigi Anak

1        penampilan fisik :

  • raut wajah yang pucat pasi
  • dahi mengkerut

2        perubahan tingkah laku seperti :

  • bicaranya yang terbata-bata bahkan  terkadang tidak  berani berbicara,
  • gelisah,
  • tangan yang gemetar,
  • keringat dingin
  • menangis
  • memberontak
  • berusaha menghindar diri dari pihak lain yang menyerangnya

Untuk membantu kelancaran dalam praktek kedokteran gigi diperlukan kerjasama tiga belah pihak, yaitu orang tua pasien, pasien, dan dokter gigi itu sendiri.

sumber: perwakilan komisi A psmkgi (2012-2014) FKG UNMAS

daftar pustaka: silahkan hubungi Admin

HALITOSIS (sumber: Duta UNMAS)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dewasa ini masyarakat sudah semakin memperhatikan penampilan fisiknya. Setiap orang berupaya untuk selalu tampil maksimal di depan orang lain maupun depan umum. Termasuk di dalamnya mengenai estetika dalam kesehatan gigi dan mulut maupun bau napas. Selalu menjaga napas agar tetap segar merupakan upaya setiap orang. Hal sering dilakukan yaitu dengan minum air putih atau makan permen dan permen karet. Hal tersebut melatarbelakangi kami untuk membuat makalah mengenai halitosis.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa pengertian dari halitosis?

1.2.2 Apa saja etiologi terjadinya halitosis?

1.2.3 Bagaimana klasifikasi halitosis?

1.2.4 Bagaimana mekanisme terjadinya halitosis?

1.2.5 Apa saja gejala halitosis?

1.2.6 Bagaimana menentukan diagnosis dan pengukuran halitosis?

1.2.7 Apa saja cara pencegahan dan perawatan halitosis?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari halitosis

1.3.2 Untuk mengetahui etiologi terjadinya halitosis

1.3.3 Untuk mengetahui klasifikasi halitosis

1.3.4 Untuk mengetahui mekanisme terjadinya halitosis

1.3.5 Untuk mengetahui gejala halitosis

1.3.6 Untuk mengetahui cara menetukan diagnosis dan pengukuran halitosis

1.3.7 Untuk mengetahui cara pencegahan dan perawatan halitosis

1.4 Manfaat Makalah ini dibuat untuk menambah informasi di bidang kesehatan gigi departemen periodonsia. Diharapkan dengan adanya makalah ini, dapat menambah ilmu pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan gigi dan mulut ………………..

DOWNLOAD DISINI

sumber: perwakilan komisi A psmkgi (2012-2014) FKG UNMAS

daftar pustaka: silahkan hubungi Admin